Selasa, 11 September 2012

[cerpen jadul] BERAKHIR DI JANUARI



            Hai temans, selamat datang, lagi ke blog Mells. Berikut aku share Cerpenku dengan judul "Berakhir di Januari" yang pernah terbit di Tabloid Apa Kabar Indonesia tahun 2010 lalu. Cerpen ini aku buat saat masih belajar nulis belum lama. Meski nama penaku bukan Mell Shaliha, tapi ini bener-bener hasil karyaku yang masih unyu banget. Maaf yaa kalau rada Alay..., selamat membaca dan boleh banget di kritisi :)

BERAKHIR DIJANUARI
By: Lady - L 

“Uhuk-uhuuk..”, dadaku sesak tiba-tiba, tersedak. Menatap teman kostku tajam, hingga mimiknya tak enak.
“Kamu lihat Dani di mana Mbak?” tanyaku memburu. Mbak Win, temanku itu menjawab keras-keras, “di Mall, denger gak?” Aku menghindari mulutnya yang bersuara stereo dengan sigap. “Oh.” Responku singkat.
“Oh…? Oh gimana si? Dia jalan sama cewek Yur, kamu gak cemburu apa?” desaknya. “Ah, mbak salah lihat kali, dia bilang mau keluar kota kok.” Sambungku.
“Waah, ya sudah kalau kamu ‘ngeyel’, telpon aja dia, tanya di mana sekarang.” Mbak Win ngotot.
“Oh, ya nantilah, gak usah buru-buru.”
“Weh, dia kan calon suamimu Yur, sadar gak sih. Katamu dia alim, gak suka main-main sama cewek, setia…katamu, dia satu-satunya orang yang kamu percaya. Gimana si kamu Yur, aku seriuuuus niiih!” Mbak Win memaksaku lagi. Tapi aku tak peduli, aku percaya saja dengan kata-kata Dani. Toh Mbak Win belum juga kenal sama Dani, jadi wajar saja dia sewot, takut kalau aku di bohongi. Padahal aku sangat percaya, Dani tidak akan macam-macam. Apalagi dengan cewek, itu si penilaianku selama ini. Jadi keputusanku adalah tidak menelponnya. “Yar ..Yur…Sayur kali…!” Ledekku menepis kata-katanya.
            Dani itu calon suamiku katanya- , hubungan kami sudah lama sebagai teman. Dari SMP sampai SMU, lalu berpisah setelah lulus. Dia kuliah, aku kerja. Aku yang pertama suka sama Dani. Bawaannya yang sederhana dan tegas, terkesan cool. Berbeda dengan teman-teman sekolah cowokku yang lain. Aku baru melihatnya saat SMU, dia aktif di organisasi sekolah dan Tae Kwon Do. Dia…tidak pernah pacaran. Setelah aku renungkan, justru pilihanku tepat padanya, ya- aku mulai menyukainya. Sebagai teman yang lumayan akrab, aku berani bilang kalau aku suka. Mungkin terlalu berani sebagai cewek, tapi…kalau tidak begitu, dia mana tau perasaanku. Tak lama kemudian, mungkin dia kasihan melihatku yang sok sedih jika sedang memandangnya dari ujung kelas. Akhirnya dia menerimaku. Sejak memutuskan jalan bareng, kami malah jarang ngobrol, malu. Entah kenapa. Paling berpapasan sebentar, bertanya hal-hal yang tidak penting, kemudian berlalu.
            Setelah bekerja dua tahun di sebuah butik batik, hubungan kami menjadi lebih mudah, kami masing-masing memiliki telepon genggam. Mengirim pesan yang tidak penting, atau menanyakan kabarnya. Kami malah hampir tak pernah bertemu lantaran kesibukan masing-masing. Tapi tak apalah, justru itu baik bagi kami, mengurangi dosa atau apalah, kami memang belum punya rencana menikah. Bukan –tepatnya dia, kalau aku sudah siap menikah semenjak bekerja. Mungkin benar kata orang, bahwa wanita akan lebih matang pemikirannya dibanding laki-laki meskipun usia masih muda. Aku juga pernah suatu saat mengajak Dani ngobrol soal pernikahan, dia toh sudah berhasil sekarang. Kuliah sudah kelar, sudah bekerja mapan, tapi untuk menikah katanya tunggu dulu. Paling tidak dua atau tiga tahun lagi.
            Jujur saja aku tak enak dengan penilaian orang. Meski kami jarang kelihatan bersama, tapi tetanggaku di rumah dan teman-temanku tahu kalau Dani calon suamiku. Kadang juga aku merasa hubungan seperti ini tidak ada ujung pangkalnya. Aku hanya seorang wanita, apa pantas jika aku memaksanya untuk menikahiku sedang dia sendiri merasa tidak sanggup? Bapakku juga pernah menyarankan untuk putus saja ketimbang hubungan menjadi tidak berujung.
“Kamu sama juga dengan pacaran Yur kalau seperti itu. Meski jarang ketemu, tapi kalian punya ikatan janji. Tapi janji di bibir saja! buktinya dia toh tidak juga sanggup menikah!”  kalimat panjang bapak beberapa bulan lalu masih kuingat. Bahkan aku sempat melakukannya. Mengajak Dani berpisah saja jika terlalu lama.
“Apa tidak lebih baik kita jalan sendiri-sendiri saja Dan, biar kita masing-masing lebih konsentrasi ke pekerjaan? Kamu juga belum siap menikah kan?”
            Tak pernah ada jawaban setuju untuk sebuah perpisahan. Aku rasa hubungan semacam ini tidak ada untungnya –bukan, aku bukan mencari keuntungan, maksudku manfaat. Hal ini hanya buang-buang waktu. Pikiranku terus berputar, seiring sentilan kata-kata Bapak atau terkadang Ibu yang bergantian mengingatkan. Tapi sungguh aku belum bisa mengindahkan mereka, lebih-lebih aku semakin tidak tahu harus bagaimana. Perasaanku? Entahlah, aku tak bisa bilang mencintai tapi juga tidak membenci. Datar-datar saja, kalau cemburu terkadang ada. Melihat sosoknya.. sangat membuatku tak tega untuk meninggalkan begitu saja. Tapi aku juga tidak mengasihani dia –atau mungkin simpati?
            Pusing. Aku tak bisa melihatnya sendirian, rasa sosialitasku muncul ketika bertemu dengan sosoknya yang bercerita tentang masa lalunya. Tentang orang tuanya yang bercerai dan tidak menerimanya sebagai anak. Hatiku merasa teriris ketika mendengarnya berbicara, “mungkin aku ini anak haram, orang tuaku tak sudi merawatku sejak bayi.” Memang, Dani hanya tinggal bersama nenek buyutnya. Hanya ada dua orang  yang tinggal di rumah joglo tua itu, dia dan neneknya. Ibunya menikah dan punya seorang putra lagi, sedang ayahnya konon juga mempunyai keluarga sendiri. Dani benar-benar sebatangkara, itulah yang membuatku merasa harus bertahan. Aku memang sok, tapi aku berusaha menyayanginya hingga dia bisa merasakan arti sebuah keluarga. Juga dengan Bapak-Ibuku, mereka menganggap Dani seperti anak sendiri. Hanya saja, perubahan itu membuat aku dan keluargaku sekarang merasa tidak harus mendampinginya lagi. Kemapanan, kemandirian dan kesibukannya.
            Keluargaku bukan keluarga kaya, tapi pendidikan agama yang diberikan Bapak- Ibuku cukup kuat. Meski aku belum bisa mengindahkan teguran mereka, bukan berarti aku tak berpikir soal itu. Aku sedang dilema. Setelah lulus kuliah dengan susah payah, Dani mendapat pekerjaan yang jujur saja –sangat bertentangan dengan nuraniku. Aku semakin ragu untuk meneruskan hubunganku dengannya hingga pernikahan. Ilmu agama yang pernah aku pelajari dan aku jadikan prinsip selama ini yang semakin menunjukkan perbedaan jalan yang kami tempuh. Dulu, semasa masih susah, Dani seorang yang taat beribadah, dia juga mengajariku tentang puasa sunnah dan tidak pernah meninggalkan shalat lima waktu. Tapi sejak bisnisnya sukses, di pertemuanku dengannya belum lama ini, aku perhatikan dia melalaikan sholatnya. Bukan hanya menunda, bahkan tidak melaksanakan. Aku kecewa dengan perubahannya itu, sayang dia tidak sadar.
            Dani berubah, apakah hatinya juga demikian? Aku sempat berfikir namun tak berani berprasangka yang terlalu. Aku selalu mencoba mempercayainya hingga detik ini, bulan ini –Januari. Dua hari lagi adalah ulang tahunku yang ke-24. Tapi biasa saja, tidak pernah ada yang istimewa, aku justru malah lebih banyak merenung seiring berkurangnya jatah usiaku. Berfikir hal-hal yang mungkin akan terjadi setelah Tuhan memberiku tambahan waktu lagi. Yang tidak biasa di hari jadiku tahun ini hanya satu, Dani –dia sama sekali tidak menelponku, bahkan mengirim do’a via pesan singkat seperti dulu, hingga lewat hari terakhir bulan Januari.
            Ada kekosongan yang aku rasakan tanpa satu katapun do’a darinya. Kini, perubahan itu semakin terlihat. Sepertinya Tuhan benar-benar mengingatkanku untuk membuka mataku yang ‘buta’ oleh kepercayaan yang tidak jelas. Oleh satu kata yang jujur saja aku membencinya –pacaran. Tidak ada janji yang ditepati, tidak ada kata yang bisa dipegang seperti tali, justru busur-busur yang membuat hatiku kian berlubang. Aku sudah tahu jawaban dari pertanyaanku yang tak terucap, kemana dan dimanakah dia?
            Tengah malam, 31 January 2008. Perempuan yang mengaku bernama Ana  menelponku. Aku tidak pernah mengenalnya, namun jauh-jauh hari aku tahu nama itu sering disebut sebagian orang yang mengenalku, juga Dani. Perempuan itu patner kerjanya disebuah perusahaan multilevel marketing.
“Apa mau kamu sebenarnya? Mulai sekarang, jangan pernah mengganggu Dani lagi.” Kalimatnya yang lugas itu mengagetkanku, “jadi apa maksud anda dengan menelpon saya tengah malam begini, mbak?” Jawabanku kaget.
“Tinggalkan dia. Dani adalah milik saya, dia tersiksa berhubungan dengan anda. Sudah dua tahun terakhir kami sangat dekat, dia banyak mengeluh tentang hubungannya dengan anda. Putuskan saja dia segera!” setelah kalimatnya yang panjang dan belum sempat aku jawab, telepon itu ditutupnya.
            Hampir tidak ada air mata yang jatuh ketika itu. Aku hanya tersudut oleh kata-kata yang tidak aku mengerti. Setelah pembicaraan terakhir dengan Dani malam itu, aku putuskan meninggalkannya. Siapa yang mau menjadi pilihan? Aku kembali pada niatku, kebahagiaan Dani. Ya –mungkin dengan orang lain Dani bisa lebih bahagia, dibanding aku yang tidak bisa mendampinginya setiap saat. Seseorang yang kita butuhkan tentu saja yang bisa membuat kita bahagia bukan? Dan aku paham, waktu bukanlah jawaban, lama atau singkatnya hubungan itu –bukanlah jaminan.
            Aku? Kebahagiaanku? Cukup sudah pemberian Tuhan selama ini, keluarga. Orang tua dan sahabat, aku masih memiliki banyak pintu kebahagiaan untuk bangkit. Kehilangan Dani bagiku hanya sebuah kebahagiaan kecil yang tak bisa kurengkuh dan petunjuk yang semakin jelas. Cinta itu mungkin belum saatnya atau tidak tepat?
         
         Dani, suatu saat kau pasti merasakan, apabila hatimu sakit seperti berlubang dan tertiup angin, saat itu kau akan mengerti akhir dari kisah ini.

***
[The Last memory, 11 Nov 2009] terbit di Tabloid Apa Kabar Indonesia 2010.
           





  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar