Senin, 16 Juli 2012

MENULIS FIKSI sambil Rekreasi


          Sulit, mungkin kata itu pertama kali yang kebanyakan orang bilang tentang menulis. Bahkan sy Pernah mendengar, menulis itu sesuatu yang dianggap kurang kerjaan, apalagi seorang cerpenis atau novelis. mungkin kebanyakan orang berfikir bahwa menulis fiksi itu mudah, hanya tinggal melamun, berimajinasi, selesai. Ups tapi tidak, menurut pengalaman saya selama 'belajar menulis', membuat tulisan fiksi itu sangat rumit. Ada kalanya jika imajinasi bisa diajak kompromi, satu cerita pasti jadi. Tapi sering juga kita tersendat oleh mood atau bahan yang akan kita bicarakan. Misal mengenai setting/tempat sebuah cerita kita kadang tdk cukup hanya membayangkan, melainkan harus benar-benar mengenali seperti apa tempat yg kita jadikan setting dalam cerita kita. Semakin detail lokasi, pembaca tentu akan semakin jelas dan membayangkan 'mereka' sedang berada ditmpat yang kita ceritakan.

Me and My first novel - Xie Xie Ni De Ai`
        Cerita fiksi menurut saya, bukan sekedar bualan/khayalan, namun juga membutuhkan riset. Selain setting, bahasa, budaya dan perwatakan tokoh dalam cerita fiksi juga memerlukan waktu untuk mempelajarinya agar cerita kita tidak sekedar bualan, melainkan 'punya' sesuatu yang perlu diketahui pembaca. Membaca menurut saya adalah membangun persepsi awal. Artinya bacaan biasanya akan mempengaruhi pembaca, entah sekedar pandangan/penilaian atau bisa jadi mereka mengambil 'sesuatu' dari apa yg sudah kita tulis, maka dari itu penting sekali menuliskan hal-hal yg bermanfaat seperti pengetahuan atau apa saja yg kita siratkan lewat cerita. So, tulisan kita akan sedikit lebih bermanfaat daripada sekedar bacaan penghibur.

        Seperti novel yang berhasil saya tulis di Hongkong tahun 2007 lalu, banyak hal yang saya tuangkan dalam kisah fiktif bertema perjuangan, persahabatan dan perncintaan itu.
Saya tidak hanya hendak menuliskan cerita cinta didalamnya, namun beberapa kisah sejati dari pengalaman saya dan kawan-kawan buruh migran yang berjuang mati-matian mempertahankan ibadah di negeri tirai bambu juga melengkapi fakta yg terjadi disana.
Penjabaran setting dalam lingkungan kampus HONGKONG Polytehnic University, pantai-pantai di Hong kong, beberapa masjid di Wanchai, beberapa Gedung di Taiwan, lokasi di Harajuku Jepang dan beberaba bahasa Asing yang berhasil saya pelajari juga saya harapkan akan  menambah wacana pembaca di manapun. Itu merupakan bukti bahwa menulis fiksi juga membutuhkan banyak belajar, tidak seperti merebus mie instan.

     Maka, besar harapan saya, novel perdana saya akan bermanfaat dan menambah wawasan atau paling tidak mampu menghibur seluruh pecinta novel di Indonesia (Nasional) maupun semua WNI di Luar negeri... Amin...


Selamat Berekreasi bersama Novel yang ditulis oleh seorang mantan 'Pembantu Rumah Tangga' ini dan beri kesempatan kami berekspresi...!!


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar