Sabtu, 14 Juli 2012

Harapan dan Kegagalan

           Seberapa besar harapan yang kamu tanam saat mengikuti sebuah kompetisi? Dalam hal ini tentu saja saya ingin membicarakan kompetisi di bidang sastra atau kepenulisan. Dan pertanyaan selanjutnya adalah seberapa kuatkah mentalmu ketika akhirnya menuai sebuah atau bahkan setiap kegagalan? Jawabannya pasti tidak bisa diukur. Atau seperti saya, Optimis sekali ketika mengikuti sebuah ajang perlombaan, seakan sayalah nanti yang bakal jadi pemenang. Terkadang juga terpikir bahkan karya saya sudah pantas mendapat kedudukan teratas. Kebanyakan dari kita tentunya mempunyai harapan MENANG setiap mengikuti kompetisi. Bohong banget kalau misal misinya cuma mau meramaikan. Kita semua tentu punya tujuan dan misi lebih serius dibandingkan dengan hanya SEKEDAR MERAMAIKAN kompetisi itu. Lalu jawaban ke dua adalah sangat down dan putus asa ketika mengetahui kita kalah dalam kompetisi, atau tidak sekedar kalah, namun tidak masuk nominasi.  Pernahkah kalian merasa demikian?
          Saya sering. Dan ketika membuka kembali file naskah yang kita ajukan rasanya sangat muak dan ingin sekali saya buang. Namun ketika waktu akhirnya menyembuhkan kegalauan mental saya, saya selalu memberanikan diri untuk membuka kembali naskah itu. Membaca ulang, mengedit dan memikirkan jalan lain agar jerih payah saya tidak terbuang sia-sia. Itu artinya saya tetap berusaha memanfaatkan naskah yang sudah menjadi 'sampah' di kompetisi itu menjadi 'sampah' yang bisa di daur ulang. Dengan harapan baru yang saya tanam lagi pada naskah itu, bahwasannya masih ada  media lain yang bersedia mengadopsinya menjadi karya yang lebih bermanfaat.
       Beberapa karya saya berupa puisi, cerita pendek dan novel telah gagal mendapat peringkat kemenangan dalam sebuah lomba. Namun saya tetap menyimpan naskah-naskah itu dan tetap berusaha mengedit serta membaca ulang hingga naskah-naskah itu mendapat sedikit demi sedikit perbaikan. Puji syukur atas keadilan dari Sang Maha Penentu, bahwa Dia tidak pernah ingkar kepada hamba'Nya yang mau berusaha. Pada akhirnya salah satu puisi saya yang gagal itu bisa masuk dalam antologi pilihan yang saya ikutkan dalam lomba puisi berselang 2 tahun kemudian. Cerita pendek yang gagal pun akhirnya diterima media cetak dan dibaca ribuan pembacanya. Juga Novel, yang akhirnya mendapat kepercayaan sebuah penerbit untuk di publikasikan. Begitulah.
           Dari semua peristiwa jungkir balik yang pernah saya alami, tentu kalian semua juga pernah merasakan, walau mungkin tak sepahit pengalaman saya. Namun semua pasti ada titik cerahnya. Ada hikmah lebih besar yang tersembunyi dari kegagalan kita di masa lalu. Waktu yang lebih tepat akan menjawab semua kegagalan dengan kesuksesan, tergantung bagaimana usaha kita. Dan tentu saja do'a, karena semua tak pernah lepas dari rahasia Tuhan. Dia yang mengatur semuanya dan memberikan yang terbaik sesuai permintaan hamba'Nya. So, sekarang saya sudah terbiasa melewati kepahitan, kegagalan dan jatuhnya mental ketika mendapati result yang tak sesuai. Karena dalam pemikiran saya yang sebenarnya masih lemah itu, terdapat harapan baru pada karya yang telah kita buat dan usaha yang kita lakukan. 
           Mungkin lebih tepatnya, ciptakan harapan baru lain sebelum kita menuai kegagalan yang pertama. Sehingga jika akhirnya kita gagal, masih ada harapan lain yang menantikan kesuksesannya.

Selamat berkarya ^_*

Mells.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar