Senin, 16 Juli 2012

[CERPEN] WE WILL NOT GO DOWN



                                                                                                 By: Mell Shaliha

“Andai aku ditakdirkan hidup 1000 tahun lagi, mungkin aku akan merasakan indahnya kehidupan di bumi ini. Mungkin angin akan selalu mengabarkan kebahagiaan bagi kami, keharuman tanah kami, sejuknya embun di dedaunan, ramai pedagang di pasar-pasar, tawa riang taman kanak-kanak. Mungkin juga aku akan bersujud di setiap masjid yang indah berdiri di negeri ini, atau hujan yang akan menumbuhkan bunga-bunga wangi di tanah ini, MUNGKIN… namun kami tidak akan turun jalan tanpa perang hari ini!”
            Namaku Hizby, mungkin aku harus bersyukur pada Tuhan atas kesempatan bernafas yang Dia berikan padaku sampai detik ini. Tapi ada banyak hal yang tidak diketahui orang-orang di luar jalur hidupku. Air mata, ketakutan, ancaman, darah dan kematian yang serasa sangat dekat denganku. Setiap detik, siapa sangka hidupku akan sampai hari ini. Aku telah kehilangan semuanya. Ayah, kakak dan saudara-saudaraku seiman, semua telah bersatu dengan bumi tanpa sisa karena hantaman bom sekutu biadab Israel yang mereka proklamirkan sejak tahun 1948, tahun itu bahkan saat orang tuaku belum dilahirkan mereka telah merampas hak-hak kami, rakyat Palestina. Tapi aku harus bersyukur karena Tuhan masih meninggalkan ummi dan seorang adik perempuan untukku.
            Siang itu Sharon, adikku yang masih berumur delapan tahun menungguku mengambil jatah makanan di camp. Aku memang tak mengijinkannya mengambil sendiri. Badannya kurus walau aku tak lebih gemuk darinya, tapi aku masih lebih kuat bertahan dari dorongan, desakan dan kekerasan yang biasa terjadi saat mengantri di camp. Aku tidak pernah tega melakukan itu. Setiap waktunya tiba aku hanya menyuruh ummi dan Sharon untuk diam di tempat. Bagaimana bisa ummi yang hanya bertangan satu mengambil jatahnya sendiri dan kadang juga harus kuat melawan desakan dari orang lain. Dan Sharon, bisa saja dia terinjak dan tidak jadi makan jatahnya.
            “Pesawaaat…Hizby, kembalilah putraku. Allohu Akbar…Hizby cepatlah kembali Nak!”
Teriakan ummi membuatku lebih panik dari biasanya. Pesawat tempur Israel kembali mengintai kami. Ada tiga pesawat tempur yang membuat kami berhamburan mencari tempat yang paling aman, walaupun kami tahu semua tempat di Gaza dalam bahaya. Tapi setidaknya ada yang kami lakukan untuk menyelamatkan jiwa kami dari  ancaman mati. Aku segera menuju tempat ummi dan Sharon. Secepat mungkin harus kuraih adik dan tangan ummi-ku menuju rumah tinggal kami yang sebenarnya sebagian hanya tinggal puing-puing hasil kerja bom Israel juga. Entahlah kali ini kami akan selamat atau tidak. Tetapi beberapa tentara suka relawan yang entah dari negara mana melarang kami kembali. Kali ini tidak ada tempat aman di Jalur Gaza dan kami tahu, tidak banyak yang bisa kami lakukan selain menuruti perintah mereka.
            “Sharon, cepatlah...kita harus segera pergi, Ummi…kita harus segera pergi…cepatlah.”
Tangan kanan dan kiriku telah menggenggam tangan kedua bagian hidupku. Aku berdo’a semoga Tuhan tak mengambil mereka dariku. Tuhan telah mengambil ayahku Husein Ibrahim yang syahid melawan tentara Israel. Ayahku ditangkap dan dibantai di depan kami pada saat kami berada diatas kapal Turki Mavi Marmala untuk menyelamatkan diri. Hingga membuat Sharon trauma jika melihat tentara Israel yang membabi buta. Sharon akan menangis  dan tak dapat bicara, ia selalu menggigil mendengar deru pesawat tempur di langit yang tak pernah henti. Begitu juga ummi yang harus merelakan tangan kanannya demi membela ayah saat itu. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Kakakku Idfar telah meninggal saat tergabung dalam operasi pengintaian buldoser Israel di Der Balah. Operasi itu dilakukan selama sepuluh jam yang berakhir dengan kemuliaanya mencapai syahadah ketika ia bergabung dalam pasukan intifadhah Al Aqsha, sebelum pembantaian di Mavi Marmala.
            “Hizby, pergilah membawa Sharon sejauh mungkin, jika perlu larilah hingga Yafa  atau Haika, tinggalkan ummi di sini, putraku, pergilah!” wajah ummi pucat, sepertinya tak punya tenaga untuk menuju truk yang biasanya membawa kami pergi menyelamatkan diri.
“Tidak Ummi, saya tidak bisa pergi tanpa ummi, biarlah saya mati jika harus meninggalkan ummi di sini. Hidup kita di sini hanya tinggal menunggu waktu, dan kami akan bersama ummi walau harus mati sekarang.” Sambil mencoba memapahnya, aku meyakinkan ummi untuk tidak menyerah. Sungguh aku tak akan pernah meninggalkannya.
“Cepat sedikit kalian sebelum bom Israel dijatuhkan di sini, ayo cepat…!” teriakan tentara penyelamat kami membuat Sharon gugup dan menangis.
“Tenang adikku, berdo’alah…kita akan selamat dan pegang tanganku kuat-kuat.” Sharon seperti biasa tak bisa bicara. Isaknya semakin menjadi, sedang ummi sudah tidak kuat lagi berjalan meski hanya seratus meter sampai di truk itu.
            Kami mencoba lebih cepat, beruntung seorang tentara bersedia membantuku    menggendong Sharon. Tanganku lebih leluasa memapah ummi untuk berjalan lebih cepat sebelum truk meninggalkan kami.
“Blaarrr...,” satu bom dijatuhkan sekitar tiga ratus  meter dari tempat kami berdiri. Beberapa orang yang masih berada di sekitar camp terkena serangan dadakan itu. Aku sempat melihat Wail, bocah berusia lima tahun masih menunggu Abunya mengambil makanan. Sebagian dari mereka tetap mementingkan makanan untuk anak-anaknya baru menuju truk. Entah bagaimana nasib Wail, semoga Tuhan memberinya perlindungan. Ummi sudah berhasil naik ke dalam truk bersama Sharon dan orang-orang yang kami kenal. Aku mendengar kami tidak akan dibawa ke Al Quds karena di ibu kota, Israel lebih leluasa bergerak dengan kebiasaan intervensi  militernya yang menyerah menjelang tengah malam.
            Mereka juga berupaya menguasai satu-satunya masjid milik ummat Islam setelah berhasil meratakan sekitar 1200 masjid lain di palestina yaitu Masjid Al-Aqsha. Dengan hilangnya Masjid Al-Aqsha dari tangan kaum muslimin, maka habislah riwayat kaum muslimin di Al-Quds. Untuk itu, siang dan malam Israel terus berusaha untuk mengambil alih kepemilikan Al-Aqsha dari tangan kaum muslimin. Setapak demi setapak mereka mengambil alih Masjid al-Aqsha. Seperti itulah mereka melakukan aksinya demi mimpi besar mereka mendirikan Kuil Yahudi yang hingga kini belum terwujud. Dimulai dengan penggalian di bawah masjid, pembangunan disamping masjid serta penghancuran sejumlah tempat suci ummat Islam di sekitar A-Aqsha, belum cukup untuk membuktikan bahwa di sana terdapat bekas bangunan Haikal Sulaiman yang mereka klaim. Namun mereka tak kenal putus asa, terus melakukan pembangunan dan perubahan demografi al-Aqsha dalam rangka mempersiapkan pendirian sinagog terbesar Israel melalui sejumlah rencana jahat dan mega proyek Al-Quds. Hal itu tentu saja mereka lakukan dengan cara yang sangat kotor dan keji. Aku yakin tidak ada pengampunan lagi bagi mereka -Israel!
            Dua pesawat tempur Israel sepertinya tak berhenti mengintai kami dengan bebas di udara. Beberapa kali serangan balasan dilakukan dari camp militer siaga. Aku seperti terbiasa dengan dentum senjata mematikan itu, jantungku sudah terlatih sejak kecil dan aku  memang harus lebih berani dari Ayah dan Kakakku karena aku harus bisa melindungi ummi serta Sharon. Oh Tuhan, aku lupa membawakan minum untuk Sharon. Saat seperti ini dia sangat membutuhkan air putih untuk lebih menenangkannya. Hampir saja aku masuk ke dalam truk tanpa memikirkan keadaan Sharon.
            “Maaf Sir, bolehkah saya meminta air putih untuk adikku, dia dalam ketakutan yang sangat hingga tak bisa bicara. Saya mohon, dia membutuhkan air untuk minum.”
“Maaf, truk ini akan segera berangkat, kalau tidak mereka akan membunuh kita semua dengan sekali hantam. Anda harus tahu. Kita harus menyelamatkan semuanya sekarang juga. Cepatlah masuk!”
“Sebentar saja pak, adik saya akan mati sesak nafas dalam keadaan trauma, pak…saya mohon, dua menit saja.”
“Demi Tuhan anak muda, tidak bisa, maaf anda harus naik atau kami akan pergi tanpa anda.” Percuma, bersikeras tetap tidak akan membuat mereka menungguku. Tapi di dalam truk yang pengap, Sharon akan sangat menderita.
“Maaf pak tapi saya harus mengambil air putih untuknya.” Aku tak peduli lagi pada tentara penolong kami itu. Dia berteriak lebih keras padaku. Lariku menuju camp banyak terhambat orang-orang yang berhamburan menuju truk-truk lain. Aku berhasil mencapai camp dengan cepat dan mengambil air putih yang sudah ditinggalkan  pengurusnya. Segera kuambil dengan sisa gelas yang tergeletak di sekitar camp.
            Namun aku lupa, bahwa disini tak ada aturan saling menunggu, apalagi hanya untuk meyelamatkan nyawa satu orang, tidak akan pernah mereka mengorbankan banyak nyawa. Aku berusaha lari secepat mungkin sebelum bom lain jatuh tepat di tanah yang sedang aku pijak atau mungkin di truk-truk yang mengurus pengungsian itu. Yaa…Tuhan, aku malah menyandung seorang nenek yang tergopoh-gopoh mengejar truk. Kemudian aku berbalik lagi, percuma jika aku selamatkan satu nyawa keluargaku jika aku harus membunuh nenek yang tak berdaya itu. aku mencoba memapahnya walaupun ia hampir menyerah.
            Seandainya aku punya kekuatan lebih, akan ku gendong si nenek dan kubawa lari secepatnya. Doorr….! Suara senapan, aku tak sadar hanya ingin berlari dan berlari, namun rintihan lemah si nenek menyadarkanku. Aku melihatnya, kakinya melemah, darah dimana-mana dan aku semakin sadar bahwa kaki kanannya yang tertembak entah dari arah mana. Kemana aku harus berlari? Truk itu…aku memaksa Si nenek untuk bertahan, sambil kuseret berjalan, namun truk yang membawa ummi dan Sharon telah berlalu. Aku melihat lambaian tangan ummi sambil menjerit memohon pada tentara untuk menungguku, namun semua sia-sia. Aku menangis, hanya itu.
            “Tolong pak, selamatkan nenek ini pak, dia tertembak, saya tidak kuat lagi.” Kulihat ada tiga tentara suka relawan asing langsung mendengar teriakanku. Mereka menggotong Si nenek dan aku mengikuti kemana mereka akan membawa kami. Ada satu truk lagi, artinya masih ada kesempatan untuk selamat. Jika mereka juga membawa kami ke Akka, satu-satunya daerah yang masih terbilang aman di Palestina tentu aku bisa bertemu kembali dengan ummi dan Sharon di Masjid Ahmad Pasha.
“Maaf Pak, apakah mobil ini akan menuju Akka  seperti yang lain?” tanyaku penuh harap.
“Maaf, tidak. Kami semua menuju Al Quds. Ini mobil tentara anak muda, bukan yang mengurus pengungsian. Truk-truk itu sudah pergi beberapa menit yang lalu.” Pupus sudah harapanku. Kami berpisah, aku, ummi dan Sharon. Ada sesal yang seakan menyumbat seluruh kelenjar, semua bagian tubuhku jadi tak mampu bekerja. Hanya kelenjar air mata yang dengan mudah melaksanakan tugasnya. Selama dua puluh tahun sakit hati ini terulang kembali, seperti saat kehilangan Ayah dan Idfar. Sekarang aku harus melepas kedua bagian hidupku dalam keadaan yang sedang gawat di negeri para Nabi ini.
            Aku ingat pesan Ummi dulu disaat-saat kami menikmati detik yang aman dan kami bisa tidur nyenyak, pesannya… ‘Anakku Hizby, menangislah jika kau ingin menangis sebagai ummat Rosululloh, namun jadilah pemuda yang kuat seperti-nya, kuat seperti ayah dan kakakmu Idfar, karena hanya dengan kekuatan dan keberanian kamu bisa melawan semua ini, kamu bisa hidup dan bertahan disini. Jangan pernah lari dari keadaan ini kecuali menyelamatkan diri, namun alangkah bijaknya jika kau menyayangi negeri ini dan mempertahankannya walau dengan darahmu sekalipun. Ingat, kita hanya akan pergi atas panggilan’Nya. Kau paham anakku? Lihatlah, para tentara sukarelawan itu, mereka rela meninggalkan keluarga dan negaranya untuk membantu kita mempertahankan Palestina. Mereka rela meninggalkan keluarganya dan mati untuk Palestina, karena mereka mencintai kita dan negeri ini. Maka jangan sekali-kali kau meninggalkan angkara murka ini jika matimu akan selamat sayang.’
            Debu dan pasir Al Quds mengiringi angin senja. Mataku kembali mengeluarkan air lelah yang sangat dalam sujud panjangku di Masjidil Aqsha. Aku merindukan Ummi dan Sharon, bagaimana keadaan mereka di Akka? Apakah mereka baik-baik saja yaa Robb? Hanya kepada’Mu aku memohon perlindungan atas mereka. Selamatkan mereka dari kedzaliman Israel, selamatkan Palestina kami yaa…Robbi…!
Lima hari sudah aku lalui di Al Quds, kami hampir tak pernah bisa tidur melewati malam dan siang. Akhirnya aku putuskan untuk mengajukan diri bergabung dengan pasukan militer sukarelawan untuk berperang. Aku harus menjalankan pesan ummi, untuk mempertahankan bumi kami.  ***
Subuh di Al Quds, masih dengan ‘simfoni’ peperangan yang mencekam. Kami, para militer mendengarkan kalimat demi kalimat pengobar semangat kami untuk syahadah di jalan’Nya. “Wahai kaum muslimin!! Hari masih pagi saudaraku, perang ini baru saja dimulai…bangunlah, hapus air mata ibunda kita, anak-anak kita, para orang tua kita, saudara-saudara kita dan jangan menitikkan air mata untuk kekalahan. Yahudi menginginkan pembagian Masjid al-Aqsha sebagaimana yang sudah mereka dapatkan atas Masjid Ibrahimi di Hebron. Yang mereka inginkan adalah yahudisasi Al-Aqsha bukan sekedar menghancurkan Al-Aqsha!! Mari kita bangkit untuk kemenangan Islam!”
            Palestina, andai aku bisa merasakan ‘kehidupan’ diatasmu, saat ini aku merasakan hidup yang paling indah. Di subuh ini aku bangun dari tidurku, aku hidup dari matiku dan tunggulah sujudku dalam balutan kasih’Nya di subuh-subuh yang akan datang.
Allohu Akbar… Lapor kapten, baru saja kami mendapat laporan dari tim militer di Akka, Israel baru saja menjatuhkan bom di Masjid Ahmad Pasha saat sholat jamaah subuh dilakukan.”
Farad, teman seperjuangan yang aku temukan di Al Quds melemparkan ‘bom’ yang sama kurasakan menghancurkan jiwaku yang masih bersujud. Ummi, aku tidak akan menangis lagi untuk Palestina.  Allohu Akbar!!

                                                                                                 ***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar